Memori. Tempat di mana data dan
cerita disimpan dengan sangat teliti dan rapi. Episode berdosa, penantian, kecemasan yang terus saja mencuri ketenangan, rindu yang
mengendap juga episode tentang bahagia semua berkumpul dalam secangkir
kopi pagi ini.
Secangkir kopi yang mampu mengenang 2016 dari
paradigma berbeda. Butirannya adalah energi bagi banyak nyawa yang
hampir mati akibat ditikam cinta berulang kali. Seperti reinkarnasi yang
mengalami dejavu tanpa henti. Miris,
tapi libur 14 hari di tetapkan sedemikian rupa. 14 hari yang terasa
seperti mimpi. 14 hari yang membuat saya tertawa, berdosa, jatuh,
bangkit, kesepian, hangat dan dingin, berjalan, berlari, lalu berhenti.
Saya sadar, manusia memang harus merasakan kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan. Kopi memisahkan
jarak antara pahit dan manis, dosa dan pahala dalam setiap molekul yang menguar. Ada pula binarmu yang mengepul dalam
setiap seduhan pagi.
Logika mengalah pada sujud, dan aksara tak lagi mampu mengeja cinta. Kini, kamu mengerti? Jangan! Tetaplah tuli dalam
menikam sepi, tetaplah bisu dalam mengepung pilu, dan tetaplah di sini,
menemaniku, di akhir cerita 14 hari ini.
Namun...
Melalui
luka kita belajar banyak hal. Bahwa tidak segalanya ber-analogi seperti
kesempurnaan cinta Yin dan Yang, Romeo dan Juliet atau antara realita dan
surealita. Segalanya hanya sebuah metafora antara aku dan kamu yang
bersatu dalam sebuah ikatan lalu meledak seperti Supernova.
_
Saat bibir menyunggingkan senyum, secangkir kopi bertransformasi menjadi
molekul berisi cerita 14 hari paling riang yang pernah ada. Dan saat
secangkir kopi mengalami perpisahan, dia adalah elemen tergelap di mana
cahaya tidak di izinkan masuk...
***

Komentar