Astronomi tak pernah
serumit kamu, tak pernah sesulit rasa itu padamu. Meskipun, hitungannya tahun
kecepatan cahaya, tapi kilometer lebih membuatku tersiksa. Nestapa itu
benar-benar memahat selayaknya horizon peristiwa. Namun, astronomi tak
pernah seindah kamu, meski nebula objek terindah disana, tapi hadirmu
mengalahkannya. Selayaknya dijagat raya yang tak berujung, entah
bagaimana aku menemukanmu, entah bagaimana aku jatuh seutuhnya padamu, rotasi
ini begitu kuat. Mungkin bukan karena ketidaksengajaan, mungkin saja semesta
memang sudah merencanakan, bahkan sebelum Adam dan Hawa diturunkan.
Kita tak terlau banyak
membahas astronomi, tapi kita selalu saja berharap pada bintang-bintang
diantariksa, mempertemukan dan berada diatap yang sama. Tenda kecil yang
berdiri dibelakang kita, juga api unggun yang memantulkan keistimewaan dirimu.
Matamu pernah basah selayaknya hujan. Merupa atlantik hingga dingin resah
mencekik. Aku, yang merasa mahir menenangkanmu, mencoba menjadi rumah dari
setiap gemintangmu.
Kadangkala, matamu
berbintang selayaknya rasi bintang. Aku yang tak kuasa hanya mengagumi. Mata
yang lebih teduh dari senja itu benar-benar menyihir selayaknya aurora di kutub
bumi. Matamu selalu penuh rasi, hatimu rapsodi; semesta indah yang terpatri. Siapa
yang tak mampu jatuh hati?
"Aku
Betelgeuse kamu Rigel, dan cinta kita menjelma orion megah dilangit
malam."
Langit Selatan, 13
April 2014
***

Komentar